BAB 1
PERSPEKTIF MANAJEMEN SUMBER
DAYA MANUSIA
A.
Pengertian manajemen sumber daya manusia
Untuk memahami konsep
manajemen sumber daya manusia, kita lebih dahulu harus mengerti arti manajemen
dan sumber daya manusia. Berbagai definisi tentang manajemen telah banyak
dikemukakan. Sebagai suatu ilmu, konsep manajemen bersifat universal dengan
mengunakan kerangka berfikir keilmuan, mencakup kaidah-kaidah, dan
prinsip-prinsipnya.
1.
Manajemen
Apabila kita membuat suatu pembatasan
atau definisi tentang manajemen, dapatlah dikemukakan sebagai berikut. “ bekerja dengan orang-orang untuk mencapai
tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planing),
pengorganisasian (organizing), penyusunan persoalan atau kepegawaian
(staffing), pengarahandan kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling).
Berhatian
bagan berikut ini.
Jadi, manajemen pada dasarnya adalah
upaya mengatur segala sesuatu (sumber daya) untuk mencapai tujuan organisasi.
Dari uaraian tersebut tampak bahwa
dalam manajemen terhadap dua hal penting, yaitu :
a. Jabatan, yaitu kedudukan-kedudukan yang disediakan bagi orang-orang
yang memenuhi syarat dan keahliam dalam jabatan tersebut.
b.
Job, yaitu pekerjaan merencanakan, mengatur,
mengarahkan, melaksanakan, dan mengawasi atau mengendalikan jalannya kegiatan
dalam mencapai tujuaan tertentu.
Orang yang memiliki pengetahuan luas
tentang konsep dan prinsip-prinsip manajemen belum tentu dapat melaksanakannya
jika tidak menguasai seni manajemen.
Selain sebagai seni, manajemen juga
sebagai proses untuk mencapai tujuan organisasi. Sebagai proses untuk
mencapainya diperlukan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang konsisten, dan
pengendalian yang kontinu agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan
efisien dan efektif.
Mengapa manajemen dibutuhkan ?
manajemen dibutuhkan oleh semua orang atau organisasi. Tanpa manajemen usaha
untuk mencapai suatu tujuan akan sia-sia belaka.
Alasan diperlukan manajemen
adalah sebagai berikut:
a. Manajemen dibutuhkan untuk mencapai tujuan pribadi,
kelompok, organisasi, atau perusahaan
b. Manajemen dibutuhkan untuk menciptakan keseimbangan diantara
tujuan-tujuan, sasaran-sasaran, dan kegiatan-kegiatan dan pihak-pihak yang
berkepentingan dalam organisasi atau perusahaan, seperti pengusaha dan
karyawan, kreditur dan nasabah, atau masyarakat dan pemerintah.
c. Manajemen dibutuhkan untuk mencapai efiisiensi dan
produktivitas kerja organisasi atau perusahaan.
2.
Sumber daya manusia
Kesadaran manusia akan pentingnya
sumber daya manusia bukan hal baru. Manusia hidupnya selalu memikirkan cara
memper-oleh bahan pangan, sandang, dan papan.
Manusia mengidentifikasi sumber daya
alam dengan subtansi tertentu, seperti minyak bumi, batubara, bijih besi, bijih
timah, dan bauksit. Akan tetapi, dibalik semua itu yang lebih penting ialah
akal budi manusia, kemerdekaan, dan keteraturan social.
Sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dapat di
katagorikan atas enam tipe sumber daya (6M), yaitu sebagai berikut.
a. Man (manusia)
b. Money (finansaial)
c. Material (fisik)
d. Machine (teknologi)
e. Mothod (metode)
f.
Market (pasar)
sumber daya manusia adalah orang-orang yang merancang dan menghasilkan
barang atau jasa, mengawasi mutu, memasarkan produk, mengalokkasikan sumber
daya financial, serta merumuskan seluruh strategi dan tujuan organisasi.
Eric Zimmerman dalam bukunya, Economc Principles and
problems, menyebutkan bahwa sumber daya berkembang secara dinamis menurut
irama kegiatan dan kebutuhan manusia. Dalam hal ini factor yang menentukan
adalah sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
3.
Manajemen sumber daya manusia
Apakah manajemen sumber
daya manusia itu ? manajemen sumber daya manusia (human resources management) adalah suatu kegiatan pengelolaan yang
meliputi pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa bagi
manusia sebagai individu anggota organisasi atau perusahaan bisnis. Manajemen
sumber daya manusia juga menyangkut cara-cara mendesain sistem perencanaan,
penusunan karyawan, pengelolaan karir, evaluasi kinerja, kompensasi karyawan,
dan hubungan ketenagakerjaan.
Para manajer berkerja
melalui upaya orang lain atau bawaan sehingga ia membutuhkan pemahaman tentang
konsep manajemen sumber daya manusia. Manajemen sumber daya manusia yang
efektif mengharuskan manajer menemukan cara terbaik dalam memperkerjakan
orang-orang atau bawahan untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.
Empat hal penting yang
berkenaan dengan manajemen sumber daya manusia adalah sebagai berikut:
a. Penekanan yang lebih dari biasanya terhadap pengintegrasian
berbagai kebijakan sumber daya manusia dengan perencanaan.
b. Tanggung jawab pengelolaan sumber daya manusia tidak lagi
menjadi tanggung jawab manaejer khusus, tetapi manajemen secara keseluruhan.
c. Adanya perubahan dari hubungan serikat pekerja manajemen
menjadi hubungan manajemen karyawan.
d. Terhadap aksentuasi pada komitmen untuk melatih para manajer
agar dapat berperan optimal sebagai penggerak fasilitator.
4.
Istilah-istilah manajemen sumber daya manusia
Istilah manajemen sumber daya manusia banyak di
samakan dengan istilah personnel
administrator, persinnel management, industri relation, manpower management,
labour ration, labour management, management personalia, dan sebagainya.
Sementara itu, istilah industrial relation lebih luas
pengertiannya dari pada istilah-istilah yang telah di sebutkan terlebih dahulu.
Apabila di bandingkan dengan istilah personel managements, terdapat persamaan
sasaran, yaitu meliputi bidang pemberian fasilitas dari perkembangan pekerja
dan partisipasi mereka dalam organisasi.
B.
SEJARAH MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
Manajemen ilmiah (scientific management) lahir sebelum
manajemen sumber daya manusia (manajemen
personalia). Manajemen sumber daya manusia merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari manajemen pada umumnya, yang tumbuh dan berkembang sejak
adanya hubungan antara atasan dan bawahan.
Untuk lebih jelasnya,
perkembangan manajemen sumber daya manusia dapat dibagi dalam 5 tahapan, yaitu
tahap pengrajin, manajemen ilmiah, hubungan manusia, sains perilaku, dan fungsi
sumber daya manusia.
1.
Tahapan pengrajin
Orang-orang yang bekerja
selama kurun waktu 1600 sampai 1700an diarahkan oleh system pengrajin (craft system). Dibawa system ini
produksi barang dan jasa di hasilkan oleh sekolompok pekerja di dalam sebuah
ruang kerja yang sempit, seperti rumah tangga.
2.
Tahapan manajemen ilmiah (selvival)
Pada awal tahun 1900an, terhadap perubahan metode kerja.
Berbagai mesin dan metode pabrik untuk meningkatkan produksi mulai di
perkenalkan. Melonjaknya produksi barang diiringi pula dengan munculnya
beberapa masalah karena mesin produksi membutuhkan beberapa orang untuk mengoperasikannya
sehingga jumlah pekerja meningkat secara dramatis.
Gerakan manajemen ilmiah di amerika berakar dari era perang
sipil. Sebelunya kebangkitan manajemen ilmiah, karyawan di anggap sama
produktif.
Dengan konsep berfikir itulah, maka taylor merumuskan system
gaji tariff persatuan yang berbeda. Para pekerja akan memperoleh tarif bayaran
yang lebih tinggi persatuan yang di hasilkannya setelah dicapai standar
keluaran harian.
3.
Tahapan hubungan antarmanusia
Penelitian yang lebih intensif terhadap sumber daya
manusia berlangsung pada penghujung
tahun 1920an dan awal 1930an. Pada kurun waktu ini, perhatian para manajerdi
curahkan pada karyaannya untuk meningkatkan produktivitas kerja mereka.
4.
Tahapan behavioralisme (sains
perilaku)
Tahapan behavioralisme (sains
perilaku) muncul sebagai dampak dari meluasnya beragam temuan akademik dari
berbagai disiplin ilmu, seperti spikologi, ilmu politik, sosiologi, dan
biologi. Sains perilaku lebih terfokus pada organisasi secara keseluruhan dan
kurang memperhatikan individu.
5.
Tahap fungsi sumber daya manusia
Pekerjaan para sekretaris dewasa ini semakin tertumpuk.
Sekretaris dituntut mengetahui pengaruh undang-undang ketenagakerjaan terhadap
perkembangan perusahaan. Sekretaris juga diwajibkan menyimpan arsip mengenai
karyawan, system gaji, dan menyampaikan saran kepada atasan.
C.
TUJUAN DAN AKTIVITAS MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
1.
Tujuan manajemen sumber daya manusia
Tujuan
manajemen sumber daya manusia adalah memperbaiki kontribusi
produktif
orang-orang atau tenaga kerja terhadap organisasi atau perusahaan dengan cara
yang bertanggung jawab secara strategis, etis dan social. Para manajer dan
departeman sumber daya manusia mencapai maksud mereka dengan memenuhi
tujuannya.
Empat
tujuan manajemen sumber daya manusia adalah sebagai berikut.
a. Tujuan social
Tujuan
social manajemen sumber daya manusia adalah agar organisasi atau perusahaan
bertanggung jawab secara social dan etis terhadap kebutuhan dan tantangan
masyarakat dengan meminimalkan dampak negatifnya.
b. Tujuan organisasional
Tujuan
organisasional adalah sasaran formal yang dibuat untuk membantu organisasi
mencapai tujuannya. Departemen manajeman sumber daya manusia dibentuk untuk
membantu para manajer mewujudkan tujuan organisasi.
c. Tujuan fungsional
Tujuan
fungsional adalah untuk mempertahankan kontribusi departemen sumber daya
manusia pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
d. Tujuan individual
Tujuan
individual adalah tujuan dari tiap anggota organisasi atau perusahaan yang
hendak di capai melalui aktivitasnya dalam organisasi. Apabila tujuan pribadi
dan tujuan organisasi tidak harmonis, karyawan mungkin akan memilih untuk
menarik diri atau keluar dari perusahaan.
2.
Aktivitas Manajemen Sumber Daya Manusia
Untuk mencapai tujuannya, departemen
sumber daya manusia membantu para manajer dalam merekrut, melatih, mengembangkan,
mengevaluasi, memelihara, dan mempertahankan para karyawan yang berkualitas.
a.
Perencanaan sumber daya manusia
Perencanaan
sumber daya manusia harus berfokus pada cara organisasi atau perusahaan
bergerak dan kondisi sumber daya manusia yang ada saat ini menuju kondisi
sumber daya manusia yang di kehendaki. Perencanaan sumber daya manusia harus
mampu menciptakan hubungan antara seluruh strategi organisasi atau perusahaan
dengan kebijakan sumber daya manusianya.
b.
Rekrutmen
Perusahaan
akan mencari tenaga kerja baru apabila terjadi kekurangan karyawan atau tenaga kerja yang diperlukan oleh perusahaan.
Efektivitas sebuah perusahaan bergantung pada evektivitas dan produktivitas
pada karyawannya. Tanpa di dukung oleh tenaga kerja yang berkualitas maka prestasi
organisasi atau perusahaan tidak akan menonjol. Oleh karena itu, rekrutmen
sumber daya manusia menjadi aktivitas departemen sumber daya manusia yang
penting. Rekrutmen merupakan aktivitas yang dirancang untuk memperoleh tenaga
kerja yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan perusahaan.
c.
Keleksi
Dalam
menyeleksi karyawan baru, departemen sumber daya manusia biasanya menyaring
pelamar melalui wawancara, tes, dan menyelidiki latar belakang pelamar.
Selanjutnya, merekomendasikan pelamar yang memenuhi persyaratan pada manajer
untuk diambil keputusan pengangkatan terakhir.
d.
Pelatihan dan pengembangan
Perkembangan
organisasi atau perusahaan terkait erat dengan kualitas sumber daya manusia.
Program pelatihan dan pengembangan merupakan serangkaian aktivitas yang
dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, sikap, dan
kinerja sumber daya manusia.
e.
Penilaian prestasi kerja
Penilaian
prestasi kerja (performance appraisal) merupakan
salah satu faktor kunci dalam mengembangkan suatu organisasi atau perusahaan
secara efektif dan efesien. Dengan dilakukan penilaian prestasi kerja berarti
suatu organisasi atau perusahaan telah memanfaatkan secara baik sumber daya
manusia yang ada dalam organisasi.
f.
Kompensasi
Dalam
suatu organisasi atau perusahaa, terutama perusahaan yang profit-making, maka pengaturan kompensasi merupakan faktor penting
untuk dapat memelihara dan mempertahankan prestasi kerja para karyawan.
Program-program kompensasi sangatlah penting untuk mendapatkan perhatian yang
sungguh-sungguh karena mencerminkan adanya usaha organisasi atau perusahaan
untuk memepertahankan dan meningkatkan kinerja sumber daya manusia.
g.
Pemelihara kesehatan tenaga kerja
Setiap
organisasi atau perusahaan bisnis diharapkan memiliki program kesehatan kerja
guna mengurangi kecelakaan kerja dan kondisi kerja yang tidak sehat. Setiap
keryawan perlu secara terus-menerus diingatkan dan dijamin tentang pentingnya
kesehatan kerja dan diinstruksikan agar menghindari kecelakaan kerja.
h.
Hubungan karyawan
Organisasi
atau perusahaan bisnis tentu saja tidak semata-mata ingin memenuhi atau
mencapai tujuan dengan mengorbankan kepentingan karyawan sebab manusia
sebenarnya merupakan penentu akhir dari keberhasilan suatu organisasi. Untuk
menghindari kemungkinan perlakuam yang tidak manusiawi dari pihak pimpinan
(manajemen) maka biasanya para karyawan membentuk semacam perserikatan atau
serikat pekerja.
D.
KONDISI SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA DI ERA GLOBAL
Sumber daya manusia (SDM) merupakan
salah satu faktor kunci dalam reformasi ekonomi, yakni untuk menciptakan SDM
yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam
persaingat global yang selama ini kita abaikan. Pertama, adanya ketipangan
antara jumlah kesempatan kerja dengan angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja
nasional pada krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar 92,73juta orang.
Sementara jumlah kesempatan kerja yang ada hanya sekitar 82,67juta orang. Dan
ada sekita 5,06juta orang menjadi penganggur terbuka (open unemployment). Angka ini meningkat terus selama krisis ekonomi
yang kini berjumlah sekitar 8 juta.
Kedua, tingkat pendidikan angkatan
kerja Indonesia relative masih rendah. Struktur pendidikan angkatan kerja
Indonesia masih didominasi oleh pendidikan dasar, yaitu sekitar 63,2%. Kedua
masalah tersebut menunjukan bahwa ada kelangkaan kesempatan kerja dan rendahnya
kualitas angkatan kerja secara nasional diberbagai bidang kehidupan.
Menurut catatan direktorat jenderal
pendidikan tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas, angka pengangguran sarjana di
Indonesia lebih dari 300.000 orang. Fennomina meningkatnya angka pengangguran
sarjana seyogianya perguruan tinggi ikut bertanggung jawab. Fenomena
penganguransarjana merupakan kritik bagi perguruan tinggi karena ketidakmampuannya
dalam menciptakan iklim pendidikan yang mendukung kemampuan wirausaha
mahasiswa.
E.
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
Pemanfaatan teknologi merupakan prasyaarat menuju “best practice” dalam pengelolaan
organisasi. Dalam hal ini, ada dua faktor inovasi yang saling terkait. Pertama, inovasi produk; proses
merupakan hal krusial dalam menciptakan competitive
advantage. Kedua, teknologi dalam organisasi; keduanya pasangan yang tak
dapat dipisahkan; teknologi tidak dapat diterapkan tanpa reorganisasi, dan
reorganisasi tidak akan efektif tanpa penerapan teknologi.
System informasi berbasiskan teknologi computer memungkinkan
organisasi mengintegrasikan informasi kepegawaian dalam system database, yang disebut SIM (system informasi manajemen) SDM,
setidaknya SIM SDM memberikan tiga keuntungan, yaitu:
1.
Memungkinkan departemen SDM
berperan aktif dalam perencanaan strategis perusahaan.
2.
Mengintegrasikan dan
menyimpan semua informasi SDM dalam suatu database nasional, yang sebelumnya
tersimpan dibeberapa lokasi fisik yang terpisah. Oleh karena itu, dalam proses
perencanaan, departemen SDM dapat mengambil perspektif global terdapat
pesediaan dan kebutuhan pengembangan SDM untuk selanjutnya diinterprestasikan
dengan cara yang lebih efektif.
3.
Memfasilitasi penyimpanan
data dan akses catatan kepegawaian yang vital bagi perusahaan. Sebagai tambahan
terhadap data internal, dengan fasilitas internal, departemen SDM dapat diambil
manfaat dari akses langsung ke sumber data eksternal yang berisi informasi
penting bagi penyusunan strategi SDM, seperti literature dan kependudukan,
informasi praktek-praktek SDM yang dilakukan perusahaan lain, dan aturan-aturan
ketenagakerjaan.
BAB 2
PERENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIA
A.
PENGERTIAN PERENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIA
Perencanaan (planning) adalah suatu
proses untuk menentukan rencana atau program kegiatan. Suatu perencanaan selalu
berkaiatan dengan tujuan. Perencanaan membantu kita untuk mengetahui apa yang
harus dilakukan. Perencanaan tidak dapat dibuat secara bergesa-gesah, namun
memerlukan waktu yang cukup.
Perencanaan
sumber daya manusia membutuhkan kecermatan karena berkaiatan dengan hajat
manusia. Suatu perencanaan sumber daya manusia harus memperhatikan hal-hal
berikut ini.
1.
Mengumpulkan informasi
secara regular dan terus-menerus.
2.
Menganalisis permintaan dan
penawaran sumber daya manusia masa kini dan masa datang.
3.
Menggunakan hasil analisis
sebagai bahan penyusunan kebijakan program, proyek, dan kegiatan dibidang
ketenagakerjaan dan kesempatan kerja.
4.
Memanfaatkan sumber daya
manusia menurut jabatan dan kualitasnya.
5.
Melaksanakan monitoring
secara terus-menerus terhadap kebijakan untuk melakukan perubahan atau
penyesuaian.
6.
Mengintegrasikan
perencanaan sumber daya manusia dalam suatu perencanaan manajemen sumber daya
manusia.
Perencanaan sumber daya manusia memiliki
hubungan yang vital dan terintegrasi dengan manajemen sumber daya manusia.
Perencanaan sumber daya manusia menggunkan informasi berbagai aktivitas sumber
daya manusia.
B.
PENGADAAN TENAGA KERJA DAN ANALISIS JABATAN ATAU PEKERJAAN
1. Pengadaan tenaga kerja
Pengadaan tenaga
kerja dimaksudkan untuk memperoleh jumlah dan jenis tenaga kerja yang tepat
untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja guna mencapai tujuan organisasi. Fungsi
ini menyangkut penentuan kebutuhan tenaga kerja, rekruitmen, seleksi, dan
penempatannya.
Sebelum
pelaksanaan fungsi pengadaan tenaga kerja, perlu terlebih dahulu ditentukan:
a.
Kualitas atau mutu tenaga
kerja yang diinginkan sesuai dengan jenis pekerjaan atan jabatan serta
persyaratan jabatan yang ada.
b.
Jumlah dan jenis tenaga
kerja yang dibutuhkan berdasarkan tingkat pendidikan atau keahliannya.
Kedua hal diatas bersifat overall sehingga diperlukan adanya koordinasi, sinkronisasi, dan
kerja sama dari setiap eselon dalam organisasi yang bersangkutan.
2. Analisis jabatan atau
pekerjaan
Nilai pekerjaan,
baik bagi individu maupun bagi organisasi, adalah sebagai berikut.
a. Bagi individu
·
Memengaruhi dan menetukan
standar kehidupan, serta menggambarkan status social ekonomi.
·
Semakin besar penghasilan
seseorang semakin terbuka peluang memenuhi kebutuhan secara berkualitas dan
memuaskan.
b. Bagi organisasi
·
wahana perwujudan
eksistensin dan pencapaian tujuannya.
·
Pekerjaan yang dilaksanakan
secara produktif dan berkualitas yang mampu menghasilkan produk dan pelayanan yang
berkualitas.
Ada
dua tujuan dari kegiatan analisis jabatan atau pekerjaan yaitu :
a.
Pertama, untuk menyusun uraian
jabatan (job description) dan
persyaratan jabatan (job specification).
Dari uraian jabatan dapat di ketahui jenis tugas dan tanggung jawab, prosedur
mengerjakannya, dan alasan si pejabat melakukan pekerjaan tersebut.
b.
Kedua, sebagai dasar untuk
melaksanakan kegiatan manajemen SDM. Kegiatan-kegiatan yang di maksud adalah
penilaian kinerja pejabat yang bersangkutan, apakah sudah sesuai dengan tugas
dan tanggung jawabnya.
3. Deskripsi jabatan atau
pekerjaan
Analisis jabatan atau pekerjaan merupakan suatu proses berfikir
yang bersifat abstrak mengenai suatu jabatan atau pekerjaan. Hasilnya
dirumuskan menjadi deskripsi atau spesinkasi jabatan atau pekerjaan dalam
bentuk tertulis.
Yang dimaksud
dengan deskripsi jabatan atau
pekerjaan adalah:
a.
Hasil analisis jabatan atau
pekerjaan sebagai rangkaian kegiatan atau proses menghimpun dan
menginformasikan mengenai suatu jabatan atau pekerjaan yang dirumuskan dalam
bentuk tertulis.
b.
Dokumentasi tentang batasan
dan penjabaran suatu jabatan atau pekerjaan menjadi tugas-tugas, wewenang,
tanggung jawab, kondisi kerja, dan spesifikasinya.
c.
Seluruh penyajian ringkas
secara tertulis mengenai jabatan atau pekerjaan dan syarat pelaksanaannya
sebagai hasil analisis jabatan atau pekerjaan.
d.
Uraian tertulis yang berisi
tentang tugas pokok dari suatu jabatan atau pekerjaan sebagai hasil analisi
jabatan pekerjaan.
Adapun isi pokok suatu deskripsi jabatan atau pekerjaan (job description) adalah sebagai
berikut.
a.
Identifikasi jabatan atau
pekerjaan.
b.
Ringkasan jabatan atau
pekerjaan.
c.
Rincian tugas yang
dilaksanakan.
d.
Pengawasan yang diberikan
dan diterinma.
e.
Hubungan dengan jabatan
atau jenis pekerjaan lainnya.
f.
Bahan, alat, dan mesin yang
dipergunakan.
g.
Kondisi lingkungan kerja.
h.
Penjelasan istilah-istilah
yang tidak lazim.
i.
Komentas tambahan untuk melengkapi
penjelasan diatas.
4. Spesifikasi jabatan atau
pekerjaan
Deskripsi jabatan
atau pekerjaan sebagai hasil analisis jabatan atau pekerjaan. Spesifikasi
jabatan atau pekerjaan dapat di artikan sebagai:
a.
Karakteristik atau
syarat-syarat pekerja yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan suatu
jabatan atau pekerjaan tertentu.
b.
Seluruh ringkasan mengenai
persyaratan pekerja yang akan melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan.
c.
Persyaratan pengetahuan,
keterampilan, kemampuan mental, kemampuan fisik, dan sikap kepribadian tertentu
yang di persyaratkan pada pekerja untuk dapat melaksanakan pekerjaan tertentu
secara efektif dan efisien.
Umumnya
suatu spesifikasi pekerjaan mengandung hal-hal sebagai berikut:
a.
Identifikasi jabatan
1)
Nama , 2)Kode, 3)Bagian
b.
Persyaratan jabatan
1)
Pendidikan, 2) Tingkat
kecerdasan minimum yang diperlukan , 3) Pengalama yang di perlukan, 4) Pengetahuan
dan keterampilan, 5) Persyaratan fisik, 6) Status perkawinan, 7) Jenis kelamin,
8) Usia, 9) Kewarganegaraan, 10) Kualifikasi emosi, 11) Kemampuan-kemampuan
khusus lainnya
5. Manfaat analisis jabatan
atau pekerjaan
Analisis jabatan atau pekerjaan pada dasarnya merupakan alat
bagi pimpinan organisasi atau perusahaan dalam memecahkan masalah
ketenagakerjaan secara professional dan manusiawi.
Analisis jabatan
atau pekerjaan memberikan manfaat dalam banyak hal, anatara lain:
a.
Dalam penarikan, seleksi,
dan penempatan tenaga kerja.
b.
Dalam pendidikan dan
pelatihan tenaga kerja.
c.
Dalam penilaian jaabatan
dan prestasi kerja.
d.
Dalam perbaikan
syarat-syarat jabatan dan pekerjaan.
e.
Dalam penempatan,
pemindahan, mutasi, atau promosi jabatan.
Dengan
adanya analisis jabatan ataau pekerjaan maka kualifikasi personel tenaga kerja
yang dibutuhkan dapat diketahui dan di prediksi.
6. Prinsip-prinsip analisis
jabatan atau pekerjaan
Beberapa prinsip yang perlu mendapat perhatian manajer dalam
analisis pekerjaan atau jabatan, yaitu sebagai berikut.
a.
Analisis jabatan atau
pekerjaan harus memberikan fakta akurat yang ada hubungannya dengan jabatan
atau jenis pekerjaan.
b.
Analisis jabatan atau
pekerjaan harus dapat memberikan fakta-fakta yang diperlukan untuk macam-macam
tujuan.
c.
Hasil jaabatan atau
pekerjaan harus terus ditinjau kembali dan jika perlu dilakukan perbaikan.
d.
analisis jabatan atau
pekerjaan harus dapat menunjukkan unsure-unsur jabatan yang paling penting
diantara jabatan-jabatan yang ada.
e.
Analisis jabatan atau
pekerjaan harus dapat memberikan informasi yang jelas, teliti, dan dapat
dipercaya.
7. Metode-metode analisis
jabatan atau pekerjaan
Metode yang dapat
digunakan dalam menganalisis jabatan atau pekerjaan adalah sebagai berikut.
a.
Metode observasi, Metode
ini dilaksanakan dengan mengadakan observasi, peninjauan atau pemeriksaan pada
tiap-tiap jabatan dan mengadakan pembicaraan ( diskusi ) dengan para pekerja pegawai
yang bersangkutan dengan sebagaik-baiknya.
b.
Metose interview, Metode
analisis pekerjaan atau jabatan yang lain adalah interview atau wawancara.
Informasi antara hasil analisis pekerjaan atau jabatan yang dibutuhkan dapat
pula diperoleh para penganalisis jabatan atau pekerjaan (job analyst) dengan mengadakan wawancara langsung dengan para
pekerja.
c.
Metode angket, Daftar
pertanyaan atau angket mengenai jabatan (
job questionnaires) dibuat sedemikian rupa dan dikirimkan pada para pekerja
yang bersangkutan.
d.
Metode kombinasi, Metode
ini dilaksanakan dengan menggabungkan ketiga cara diatas. Selain itu juga dapat
ditambah dengan berbagai informasi yang biasanya terdapat dalam dokumen-dokumen
hasil analisis jabatan atau pekerjaan yang telah ada sebelumnya.
8. Penganalisis jabatan atau
pekerjaan
Salah satu bagian dari perencanaan analisis pekerjaan adalah
pemilihan orang-orang yang akan menyeranggarakan analisis jabatan atau
pekerjaan secara cermat. Jika kebutuhan analisis jabatan atau pekerjaan hanya
bersifat vokasional, organisasi dapat mengangkat seorang analis pekerjaan
temporer dari luar perusahaan, misalnya memakai jasa psikolog.
C.
MENENTUKAN KUALIFIKASI DAN KUANTITAS TENAGA KERJA
1. Standar personalia
Setiap upaya analisis jabatan atau pekerjaan pasti ada akhirnya
berkaitan denga persyaratan kualiatas sumber daya manusia yang di butuhkan
untuk mengisi jabatan atau pekerjaan yang dianalisis.
2.
Penentuan standar personel
Dari uraian-uraian
terdahulu dapat di terik suatu kesimpulan bahwa untuk menentukan suatu standar
personel yang dibutuhkan suatu organisasi, ditempuh berbagai cara yang
sistematis, anatara lain dengan analisis jabatan atau pekerjaan.
3.
Kuantitas kebutuhan personalia
Masalah lain, kecuali kualitas personel/tenaga kerja seperti
di uraikan di atas, adalah masalah penentuan kualitas atau jumlah masing-masinh
jenis tenaga kerja yang diperlukan.
a.
Peramalan kebutuhan, Hal
ini kita perlu melakukan peramalan atau proyeksi terhadap kebutuhan organisasi
untuk suatu periode tertentu.
b.
Analisis kebutuhan tenaga kerja
(work force analysis), Yang dimaksud
dengan analisis kebutuhan tenaga kerja adalah melakukan analisis terhadap
kemampuan tenaga kerja yang sekarang untuk memenuhi jumlah karyawan.
BAB 3
REKRUTMEN, SELEKSI, DAN ORIENTASI SUMBER DAYA MANUSIA
A.
REKRUTMEN TENAGA KERJA
1. Pengertian rekrutmen
Rekrutmen adalah proses mendapatkan
sejumlah calon tenaga kerja yang kualifaid untuk jabatan atau pekerjaan
tertentu dalam suatu organisasi atau perusahaan. Stoner (1996) mendefinisikan
rekrutmen sebagai berikut “ the
recruitment is the development of a poll of job candidates in accordance with a
human resource plan” (stoner, at all, 1995). Artinya, rekrutmen adalah
proses pengumpulan calon pemegang jabatan yang sesuai dengan rencana sumber
daya manusia untuk menduduki suatu jabatan atau pekerjaan tertentu.
2.
Sumber tenaga kerja
Perencanaan rekrutmen harus dilakukan dengan memperhatikan
sumber tenaga kerja, baik internal maupun eksternal.
a.
Sumber internal (dari dalam
organisasi). Untuk melakukan rekrutmen internal, kegiatan yang popular dan
banyak di gunakan adalah rencana suksesi, pengisian jabatan, dan penempatan
sementara.
b.
Sumber eksternal (dari luar
organisasi). Jika sumber dari dalam belum cukup atau sudah tidah mungkin lagi,
langkah lain untuk menarik tenaga kerja adalah sumber diluar organisasi atau
perusahaan.
3. Prosedur rekrutmen tenaga
kerja
Rekrutmen
tenaga kerja yang dibutuhkan suatu organisasi atau perusahaan tidak lah mudah
untuk dilakukan. Hal yang menyulitkan adalah masalah penilaian atau pengukuran
terhadap kemampuan psikologis para pelamar.
Proses
rekrutmen merupakan rangakaian kegiatan untuk mendapatkan tenaga kerja dengan
prospektif masa depan yang positif. Untuk itu, organisasi harus berusaha
menyesuaikan kebijaksanaan rekrutmen untuk merespon perubahan dan perkembangan
pasar tenaga kerja.
4. Proses rekrutmen tenaga
kerja
Tujuan utama dan proses rekrutmen adalah pendapatan tenaga
kerja yang tepat bagi suatu jabatan tertentu sehingga orang tersebut mampu
bekerja secara optimal dan dapat bertahan diperusahaan untuk waktu yang lama.
Rekrutmen adalah proses mencari,
menemukan, mengajak, dan menetapkan sejumlah orang dari dalam maupun dari luar
perusahaan sebagai calon tenaga kerja dengan karakteristik tertentu seperti
yang tekah ditetapkan dalan perencanaan sumber daya manusia.
B.
SELEKSI TENAGA KERJA
1. Pengertian seleksi
Istilah seleksi maksudnya pemilihan tenaga kerja yang sudah
tersedia. Seleksi pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan tenaga kerja yang
memenuhi syarat dan memiliki kualifikasi yang sesuai dengan deskripsi pekerjaan
yang ada atau sesuai dengan kebutuhan organisasi atau perusahaan.
2. Dasar kebijakan
Pada dasarnya proses seleksi dimulai setelah kumpulan para
pelamar yang memenuhi syarat diperoleh melalui suatu penarikan atau seleksi.
Proses seleksi ini melibatkan serangkaian tahap serta menambah kompleksitas dan
waktu sebelum keputusan personalia diambil.
3. Pendekatan dalam proses
seleksi
Proses seleksi menurut beberapa ahli di anggap sebagai
proses penyewaan ktenaga ahli (the hiring
process). Mereka menggap hiring dan
selection merupakan konsep
ketenagakerjaan yang “ interchangeable
“ ( dapat saling di tukar istilahnya).
Dalam
proses seleksi ada dua pendekatan yang cukup menonjol pada abad ke-20 ini,
yaitu : Pendekatan successive hurdles dan Pendekatan compensantory
4. Kualifikasi yang menjadi
dasar seleksi
Jelaslah betapa pentingnya proses seleksi dalam memberikan
penilaian akan sifat-sifat, watak, dan kemampuan para pelamar secara tepat,
teliti dan lengkap. Sifat, watak, dan kemampuan yang dibutuhkan untuk memenuhi
ketentuan-ketentuan dalam diskripsi pekerjaan, harus sejauh mungkin tercermin
atau ada pada diri pelamar. Pada umumnya, beberapa kualifikasi berikut ini
menjadi dasar dalam proses seleksi.
a.
Kahlian, Keahlian merupakan
salah satu kualifikasi utama yang menjadi dasar dalam proses seleksi, kecuali
bagi jabatan yang tidak memerlukan keahlian.
b.
Pengalaman, Dalam proses
pelamaran suatu pekerjaan, pengalaman pelamar cukup penting artinya dalam suatu
proses seleksi.
c.
Usia, Perhatian dalam
proses seleksi juga di tujukkan pada masalah usia para pelamar.
d.
Jenis kelamin, Sebagai
dasar seleksi, jenis kelamin memang sering di perhatikan, terlebih-lebih untuk
jabatan tertentu.
e.
Pendidikan, Kualifikasi
pelamar merupakan cermin dari hasil pendidikan dan pelatihan sebelumnya,
yang akan menentukan hasil seleksi
selanjutnya dan kemungkinan penempatannya dalam organisasi bila pelamar yang
bersangkutan diterima.
f.
Kondisi fisik, Kondisi
fisik seseorang pelamar kerja turut memegang peranan penting dalam proses
seleksi.
g.
Tampang, Istilah asingnya
adalah “ personal appeareance” ,
yakni ‘tampak’ seseorang di hadapan orang lain atau yang ‘tampak’ pada orang
lain.
h.
Bakat, Bakat atau aptitude seseorang calon pelamar turut
pula memegang kunci sukses dalam proses seleksi.
i.
Temperamen, Temperamen
adalah pembawaan seseorang. Temperamen tidak dipengaruhi oleh pendidikan, namun
berhubungan langsung dengan ‘emosi’ seseorang.
j.
Karakter, karakter berbeda dengan tamperamen meskipun ada hubungan yang
erat antara keduanya.
5. Cara mengadakan seleksi
Seperti telah dijelaskan bahwa seleksi merupakan pemilihan
tenaga kerja yang bertujuan untuk mencari tenaga kerja yang memenuhi
syarat-syarat yang telah ditentukan oleh organisasi. Ada dua metode atau
golongan cara seleksi, yaitu secara ilmiah
dan nonilmiah.
a.
Seleksi ilmiah, Seleksi
secara ilmiah adalah cara seleksi yang mendasarkan pada data yang diperoleh job specispication sehingga dengan
demikian persyaratan-persyaratan yang telah di tentukan dalam job specispication harus dapat dipenuhi
oleh karyawan, agar benar-benar sesuai dengan keinginan organisasi. Namun, data
bersifat nonilmiah yang masih di pertimbangkan dalam proses ilmiah yaitu :
·
Surat lamaran ( bermaterai
atau tidak )
·
Ijasa sekolah dan daftar
nilai
·
Serut keterangan pekerjaan
atau pengalaman
·
Wawancara langsung
·
Refensi rekomendasi dari pihak yang dapat
dipercaya
b.
Seleksi nonilmiah, Cara
seleksi yang kedua ini, pada umumnya banyak digunakan dinegara-negara
berkembang, seperti dinegara kita sendiri. Seiring di tambah dengan
faktor-faktor lain seperti :
·
Bentuk tulisan dalam
lamaran
·
Cara berbicara dalam
wawancara
·
Tampang atau penampilan,
dan sebagainya.
6. Teknik seleksi
a. Teknik seleksi menggunakan
interview
Interview atau wawancara lazim digunakan dalam proses seleksi calon
begawai atau calon karyawan. Sesuatu survey diamerika serikat menyebutkan, dari
628 perusahaan yang diminta pendapatnya, 99% mengnyatakan mengikut sertakan
acara interview dalam proses seleksi pegawai yang mereka lakukan. Interview
atau wawancara bagaimana juga memiliki kelemahan, antara lain menurut Drs.
Manullang, adalah sebagai berikut.
1.
Subyektivitas pewawancara (
aspek perasaan individu )
2.
Cara pengajuan pertanyaan (
kurang jelas, terburu )
3.
Pengaruh halo ( sifat
khusus seorang pelamar )
b. Teknis seleksi menggunakan assessment center
assessment center merupakan suatu proses penilaian (rating) yang
dinilai sophiscated, yang isinya
diarahkan sedemikian rupa sehingga kita dapat meminiminalisasikan timbulnya
penyimpangan bias yang sangat mungkin
terjadi, sehingga dapat dipastikan kandidat tenaga kerja yang terlibat dalam
proses penilaian tersebut memperoleh suatu kesempatan yang sama untuk
mengmunculkan potensi.
c.
Orientasi tenaga kerja
Perusahaan biasanya melakukan program orientasi terhadap
karyawan yang baru diterima. Program orientasi adalah kegiatan pengenalan para
karyawan baru terhadap organisasi, fungsi, tugas dan orang-orang perusahaan.
Menurut Harry
simamora (2004:268), ada tiga masalah khusus yang biasanya yang dihadapi oleh
karyawan baru, yaitu sebagi berikut :
1.
Masalah dalam memasuki
sebuah kelompok, Karyawan baru bertanya-tanya apakah dia akan diterimah oleh
anggota kelompok lainnya, disukai, atau bebas gangguan fisik dan psikologis.
2.
Harapan yang naïf, Organisasi
lebih mudah menyampaikan informasi factual mengenai gaji dan tunjangan,
liburan, dan kebijaksanaan perushaan dari pada norma karyawan (peraturan atau pedoman
atau perihal perilaku yang dapat diterimah) dan sikap perusahaan.
3.
lingkungan kerja yang baru,
apakah lingkungan baru membantu atau menghambat karyawan baru untuk mencoba
menanjak keatas ? dapatkah kolega-keloga kerja yang diharapkan mensosialisasikan
karyawan baru terhadap standar pekerjaan yang dikehendaki ? bagaimana dan
mengapa penugasan pekerjaan pertama dipilih ? apakah jelas bagi karyawan baru
mengenai apa yang dapat diharapkan agar keluar dari hal-hal tersebut.
Program orientasi dilakukan melalui dua tahap, yaitu induksi (internalisasi) dan
sosialisasi. Induksi adalah tahap awal yang melibatkan karyawan baru, penyelia
langsung, dan program orientasi formal. Sosialisasi adalah proses
berkesinambungan ketika karyawan mulai memahami dan menerima nilai norma dan
keyakinan yang dianut orang lain dalam organisasi.
BAB 4
PENGORGANISASIAN PENGEMBANGAN SUMBER
DAYA MANUSIA
A.
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
1. Pengertian pengembangan
sumber daya manusia
Pengembangan
sumber daya manusia adalah penyiapan manusia atau karyawan untuk memikul
tanggul jawab lebih tinggi dalam organisasi atau perusahaan. Pengembangan
sumber daya manusia berhubungan erat dengan peningkatan kemampuan intelektual
yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan yang lebih baik.
Banyak istilah
yang digunakan untuk menggambarkan pengertian pengembangan sumber daya manusia.
Dalam buku berjudul personnel management karangan filippo, digunakan istilah
‘pengembangan’ untuk usaha-usaha peningkatan pengetahuan dan ketampilan
karyawan.
Tujuan organisasi
atau perusahaan akan tercapai dengan baik jika para karyawan dapat menjalankan
tugasnya dengan efektif daan efisien. Oleh karena itu, usaha pengembangan
sumber daya manusia oleh organisasi atau perusahaan amat diperlukan.
Peningkatan
efeksiensi dan produktivitas sumber daya manusia dapat dicapai dengan cara
meningkatkan:
a.
Pengetahuan karyawan;
b.
Keterampilan karyawan;
c.
Sikap dan tanggung jawab
karyawan terhadap tugas-tugasnya.
2. Tujuan pengembangan dumber
daya manusia
Pengembangan
dimber daya manusia untuk jangka panjang adalah aspek yang semakin penting
dalam organisasi atau perusahaan. Pengembangan sumber daya manusia dalam
organisasi untuk menarik anggota baru atau karyawan baru.
Tujuan pokok
program pengembangan sumber daya manusia adalah meningkatkan kemampuan,
keterampilan, sikap, dan tanggung jawab karyawan sehingga lebih efektif dan
efisien dalam mencapai sasaran program dan tujuan organisasi.
3. Manfaat pengembangan sumber
daya manusia
John H. Proctor dan William M. Thorton dalam bukunya training
a handbook for line manager, yang dikutip oleh Drs. Manullang dalam bukunya
manajemen personalia, menyebutkan terdapat 13 manfaat pengembangan sumber daya
manusia, yaitu sebagai berikut.
a.
Meningkatkam keputusan para
karyawan.
b.
Pengurangan pemborosan.
c.
Mengurangi ketodakhadiran
pegawai.
d.
Memperbaiki metode dan
system kerja.
e.
Meningkatkan tingkat
penghasilan.
f.
Mengurangi biaya-biaya
lembur.
g.
Mengurangi biaya
pemeliharaan mesin-mesin.
h.
Mengurangi keluham pegawai.
i.
Mengurangi kecelakaan
pegawai.
j.
Memperbaiki komunikasi.
k.
Meningkatkan pengetahuan
pegawai.
l.
Memperbaiki moral pegawai.
m. Menimbulkan kerja sama yang baik.
B.
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
1. Pengertian pendidikan dan
pelatihan
Andrew E. sikula
dalam bukunya personnel administration
and human recource management,
mendefinisikan pendidikan sebagai
berikut, “development is a longterm
educational process utilizing a systematic and organized prodecure by which
managerial personnel learn conceptual and theoretical knowledge for general
purpose”. Pendidikan dan pelatihan memiliki tujuan yang sama, yaitu
pembelajaran
Pelatihan
merupakan bagian dari pendidikan. Pelatihan bersifat spesifik, praktis dan segera.
spesifik berarti pelatihan
berhubungan dengan bidang pekerjaan yang dilakukan. Praktis dan segera
berarti yang sudah dilatihkan dapat diprkatikkan. Umumnya pelatihan dimaksudkan
untuk memperbaiki penguasaan berbagai keterampilan kerja dalam waktu yang
relative simgkat (pendek).
2. Prinsip dan metode
pelatihan
Berdasarkan sumbernya,
metode pelatihan dapat dibagi menjadi dua katagori sebagai berikut.
a.
In-house atau on-site training
In-house training (IHT)
berupa on the job training, seminar
atau lokakarya, instruksi ;ewat media (video, tape, dan satelit), dan instruksi
yang berbasis computer.
b.
External atau outside training
External training
terdiri dari kursus, seminar, dan lokakarya yang diselenggarakan oleh asosiasi
professional dan lembaga pendidikan.
Berdasarkan kategori karyawan,
pelatihan dapat berupa program orientasi karyawan baru, pelatihan umum secara
ekstensif, pelatihan job-spesfik, praktik, pelatihan peralatan, dan prosedur
operasi.
3. Pendekatan dalam pembrian
pelatihan
Ada tiga macam
pendekatan pokok dalam pemberian pelatihan, yaitu pendekatan internal,
pendekatan eksternal, dan pendekatan kemitraan.
a.
Pendekatan internal
Adalah pendekatan yang digunakan untuk memberikan pelatihan
dengan fasilitas dari organisasi.
b.
Pnedekatan eksternal
Adalah pendekatan yang dilaksanakan dengan cara mendaftarkan
karyawan pada program atau kegiatan yang diberikan oleh lembaga pemerintah,
organisasi professional, dan perusahaan pelatihan swasta.
c.
Pendekatan kemitraan
Dewasa ini telah banyak terjalin kemitraan antara perusahaan
bisnis dengan perguruan tinggu untuk memberikan customized training.
4. Faktor penyebab perlunya
pelatihan
a.
Kualitas angkatan kerja
Angkatan kerja terdiri dan orang-orang yang berharap untuk
memiliki pekerjaan. Kualitas angkatan kerja merupakan hal yang sangat penting.
b.
Persaingan global
Perusahan-perusahan harus menyadari bahwa mereka menghadapi
persaingan dipasar global. Agar dapat memenangkan persaingan, perusahaan bisnis
harus mampu menghasilkan produk yang lebih baik dan lebih murah.
c.
Perubahan yang cepat dan
terus-menerus
Di dunia ini tidak ada satu hal yang tidak berubah.
Perubahan terjadi dengan cepat dan berlangsung terus-menerus. Pengetahuan dan
keterampilan yang dianggap baru hari ini, mungkin besok pagi sudah using.
d.
Masalah alih teknologi
Alih teknologi adalah perpindahan atau transfer dari satu
teknologi ke teknologi yang lain.
e.
Perubahan demografi
Perubahan demografi adalah menyebabkan pelatihan menjadi
semakin penting. Kerja sama tim merupakan unsure pokok dalam pengembangan
sumber daya manusia maka pelatihan dibutuhkan untuk melatih karyawan yang
berbeda latar belakang agar dapat bekerja bersama secara harmonis.
5. Proses pelatihan kreatif
Pada saat akan
melaksanakan pelatihan, setiap organisasi atau perusahaan diharapkan pada
pertanyaan sebegai berikut.
·
Pelatihan apa yang dibutuhkan?
·
Siapa yang harus dilatih?
·
Dimana tempat latihan itu?
·
Bagaimana cara
pemberian pelatihan?
·
Bagaimana cara
mengetahui efektivitas pelatihan?
a.
Penentukan kebutuhan
pelatihan
Perbaikan kualitas yang dilakukan dengan terburu-buru
seringkali menyebabkan keputusan yang salah tentang jenis pelatihan yang akan
diberikan.
Proses pelatihan sebaiknya dimulai dengan mengumpulkan
data dari informasi yang dapat
menggambarkan jenis keterampilan yang dimiliki oleh para karyawan saat ini dan
keterampilan yang mereka perlukan untuk mencapai rencana jangka pendek dan
jangka panjang.
Pendekatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan
pelatihan adalah sebagai berikut.
1.
Menentukan keterampilan
karyawan yang diperlukan untuk mencapai peningkatan kualitas perusahaan.
·
Observasi
·
Wawancara
·
Survey job task analysis
·
Focus group
·
Sistwm saran
2.
Melakukan penilaian
kebutuhan secara periodic untuk mengidentifikasi topic-topik yang baru.
3.
Menggunakan proses
identifikasi kebutuhan berkelanjutaan yang meliputi evaluasi terhadap pelatihan
yang telah diikuti oleh keryawan dan saran dari para manajer mengenai perlunya
suatu pelatih baru.
4.
Melakukan benchmark
terhadap perusahaan-perusahaan lain untuk menentukan apa yang mereka lakukan
dan di mana mereka melaksanakan program pelatihan.
b.
Peserta pelatih
Perusahaan yang ingin memperoleh manfaat maksimal harus
memberikan pelatihan pada setiap orang diperusahaan tersebut. Komponen
pelatihaan yang penting bagi manajemen eksekutif meliputi peranan dan tanggung
jawab menejemen serta perencanaan strategis dan operasional.
Pelatihan pada staf teknis professional ditekankan pada
keterampilan pemecahan masalah dengan menggunakan alat dan teknis kuantitatif,
seperti diagram pareto, distribusi frekuensi, histogram, perencanaan sampling,
konstribusi diagram pengendaliaan, dan interprestasinya. Kelompok individu tersebut
kemudian akan :
·
Mempersiapkan pelatihan
sebelum diimplementasikan.
·
Berperan sebagai
fasilitator pada tim perbaikan proses untuk menjamin bahwa tim berfungsi
efektif dan alat serta teknis TQM/SPC digunakan dengan tepat.
·
Mempersiapkan pelatihan
yang lebih fresh kepada karyawan.
·
Melatih semua karyawan
baru.
c.
Tempat pelatihan
Pelatihan dapat dilakukan dengan on-site atau off-side
teraining. Terdapar keunggulan dan kelemahan jika menggunakan on site maupun
off side training.
Keunggulan on-site training adalah:
·
Mengurangi biaya pelatihan.
·
Menghapus biaya
transportasi.
·
Skedul pelatihan fleksibel.
·
Mengurangi gangguan operasi
sehari-hari.
Keunggulan off-side
training adalah
·
Memberikan kesan kepada
para keryawan bahwa kualitas amat penting sehingga perusahaan mengadakan
pelatihan diluar perusahaan.
·
Gangguan lebih sedikit.
·
Lebih sedikit interupsi.
·
Educational setting lebih
sesuai dengan komposissi kelas.
d.
Materi dan isi pelatihan
Masalah yang kompleks timbul dalam pemilihan dan
pengembangan materi pelatihan. Pilihan materi yang diambil bergantung pada isi
pelatihan, desain instruksional, dan alat bantu pelatihan.
e.
Pemberian pelatihan
Menurut Goestech dan Davis, dalam bukunya introduction to total quality; quality,
productivity, competitivity, ada lima macam strategi untuk memaksimalkan
sumber daya pelatihan, yaitu sebgai berikut : 1) membentuk kualitas dan awal, 2) merancang dari yang kecil, 3)
berfikir kreatif, 4)melihat-lihat dulu, 5) preview dan customize.
f.
Evaluasi pelatihan
Evaluasi pelatihan dimulai dari pernyataan tujuan yang
jelas. Tujuan yang jelas tidak akan membingungkan bila dibuatkan sasaran
pelatihan yang lebih spesifik. Tujuan pelatihan adalah untuk meningkatkan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap karyawan, serta meningkatkan kualitas dan
produktivitas organisasi secara keseluruhan sehingga organisasi mejadi lebih
kompetitif.
Pelatihan yang sahih adalah pelatihan yang konsisten dengan
tujuan pelatihan. Mengevaluasi validitas pelatihan dilakukan dengan dua tahap
proses. Tahap pertama adalah membandingkan dokumentasi tertulis mengenai
pelatihan (outline kursus, rencana pelajaran, kurikulum, dan sebagainya) dengan
sasaran pelatihan, tahap kedua adalah menetukan apakah pelatihan yang diberikan
benar-benar konsisten dengan dokumentasi tersebut.
6. Contoh pelatihan dengan
memoerhatikan poengukuran ROI
Untuk meyakinkan pihak manajemen agar mau melaksanakan suatu
program pelatihan, tidaklah cukup hanya dengan memaparkan segi-segi persiapan,
teknis pelaksanaan, dan hasil perubahan perilaku yang diharapkan terjadi
setelah peserta mengikuti pelatihan terasebut.
a.
Evluasi kebersihan
pelatihan
Seperti kegiatan lainnya dalam suatu perusahaan atau
organisasi maka kegiatan pelatihan pun perlu dievaluasi untuk melihat sejauh
mana program pelatihan yang telah dilaksanakan memiliki kontribusi pada
kemajuan perusahaan.
b.
Pengukuran ROI
1.
Menghitung biaya
Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengukur ROI
suatu pelatihan adalah menghitung biaya pelatihan, yang mencakup hal-hal
sebagai berikut.
a.
Desain dan pengembangan
Untuk dapat menghasilakan suatu program pelatihan yang baik
maka harus melawati tahapan-tahapan tertentu.
b.
Promosi
Suatu pelatihan membutuhkan waktu untuk diterima oleh
karyawan atan pihak manajemen.
c.
Administrasi
Termasuk dalam biaya adaministrasi adalah semua biaya yang
dikeluarkan untuk surat menyurat , telepon, pembuatan formulir, buku absen,dan
biaya pendaftaran yang dibebankan kepada peserta (jika diperlukan)
d.
Material
Meterial telah disusun sedemikian rupa dalam satu buku atau
bundle sehingga lebih memudahkan peserta dalam mengikuti pelatihan.
e.
Fasilitas
Fasilitas yang digunakan dalam pelatihan dapat berupa sewa
ruangan, media pelatihan atau fasilitas lain.
f.
Fakultatif
Adalah biaya yang berhubungan dengan pelaksanaan pelatihan,
baik yang dilaksanakan dengan bantuan intruktur, pelatih atau fasilitator langsung
maupun pelatihan yang dilaksanakan oleh sipeserta sendiri.
g.
Peserta
ketika tiga karyawan karus mengikuti pelatihan pada jam-jam
kerja maka hal itu harus dikalkulasikan dengan seksama.
h.
evaluasi
untuk melakukan evaluasi pelatihan mungkindigunakan berbagai
cara sehingga mau tidak mau pasti akan membutuhkan sejumlah dana.
2.
Menghitung keuntungan
Setelah selesai menghutung biaya yang harus dikeluarkan
ungtuk suatu pelatihan maka tahap berikutnya adalah menghitung sejauh mana
keuntungan financial yang bisa di peroleh.
a.
Peningkatan produktivitas
Untuk dapat mengetahui adanya suatu peningkatan
produktivitas maka perusahaan harus lebih dahulu memiliki alat untuk
mengevaluai kinerja.
b.
Penghematan biaya
Berkurangnya alat kerja atau mesin yang rusak sehingga bisa
menghemat biaya pemeliharaan.
c.
Pendapatan
Untuk beberapa jabatan tertentu mungkin akan dapat dengan
mudah mengukur pendapatan financial yang diperolehnya sebagai hasil dari
pelatihan yang diikuti.
3.
Menghitung ROI
Cara lain untuk
mengukur ROI adalah dengan menghitung berapa lama (bulan) jangka waktu yang
dibutuhkan agarbiaya yang telah diinvestasikan untuk pelatihan menjadi impas.
Artinya, biaya tersebut telah berhasil ditutup dengan keuntungan yang
diperoleh.
Dengan memandang bahwa pelatihan merupakan
suatu investasi dan bukan lagi sekedar pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh
perusahaan secara rutin (dalam kondisi ekstrim bahkan hanya sebagai sarana
untuk menghabiskan dana yang telah dianggarkan), diharapkan pihak manajemen dan
rekan kerja dari divisi lain akan lebih mudah memahami hubungan antara
pelatihan dengan keuntungan yang akan di peroleh.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurachaman,
Arifin, Prof. DR.,1979. Kerangka
Pokok-Pokok Manajemen Umum. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Allen,
Louis A. 1975. Professional Management.
New Delhi: Mc. Graw Hill Book Company Ltd.
Anthony,
Robert N., Glen A. Welsch.1974. Fundamentals
Of Management Accounting. Homewood,IIIionis: Richard D. Irwin Inc.
Gibson,
Ivance-Vich, Donnelly. 1997. Organisasi.?
Hadoko,T.Hani, Drs.1984. Manajemen. Yogyakarta: BPFE.
Harmoko,
Agung R. 2005. “Assessment Center”
(Artikel).?
Manullang,
M., Drs.1982. Manajemen Personalia. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Mukijat,
Drs.1992. Analisa Jabatan. Bandung:?
Papu,
Johanes. 2001. ”Merekrut Karyawan”. Jakarta
Team E-Psikologi.
Lasmahadi,
Arbono. 2004. Tanpa Kehadiran Sekitar pekerja.
Jakarta: UI
Lee,
John Y. 1987. Managerial Accouting
Changes For The 1990. Mass: Adison Wesley.
George
R. Terry, Ph. D. 1960. The Principles Of
Management. Iiiinois : Irwin Inc.
makasih... materinya sangat bermanfaat.
BalasHapus